• KAMI


    At-Ta'dib adalah blog Mahasiswi Fakultas Tarbiyah Institut Studi Islam Darussalam Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 3 Karang banyu Widodaren Ngawi.

  • PENGANTAR

    At-Ta'dib adalah Blog Mahasiswi Tarbiyah ISID Gontor Putri 3, blog ini mulai di launch pada 29 November 2009 diharapkan menjadi media untuk menyuarakan suara kami serta media silaturahmi kami. Blog ini adalah media pendidikan dari kami yang berisikan makalah dan catatan tentang kepondok modernan, pendidikan, filsafat pendidikan, materi kuliah, kegiatan dan lain sebagainya. Selamat Membaca! Semoga Bermanfaat!
  • ARSIP

  • TERBARU

  • META

  • KALENDER

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Feb    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

SELAMAT DATANG

Liburan telah berlalu, aktifitas baru telah menunggu…
Janganlah engkau ragu… duduk termangu… mengingat liburan yang telah berlalu…
Bangkitlah… dengan semangatmu… beraktifitas, berkreativitas untuk menjadi yang lebih baik…

SELAMAT BERLIBUR

Kekosongan harus diisi dengan mencari kesibukan dan kesehatan dengan bebas dan merdeka tetapi tetapi BERISI… karena berlibur (berisitirahat) pada hakekatnya tidak berarti libur dalam segala-galanya, tetapi berarti mengganti suatu pekerjaan dengan pekerjaan yang lain semua ini dimaksudkan untuk memperbaharui semangat dan menghilangkan rasa lesu dan bosan dengan rutinitas yang ada, sehingga selanjutnya lebih FRESH dan SEMANGAT dalam melanjutkan rutinitas harian… SELAMAT BERLIBUR! carilah hiburan yang sehat dan bermanfaat untuk bekal hidup, menuju kehidupan yang berjasa dan berbahagia dan tidak hanya sekedar membuang-buang waktu dan umur serta pandai menggunakan kesempatan, yaitu mengisi kekosongan dengan pekerjaan yang berarti dan bermanfaat… so girls… berliburlah dengan cara terhormat, cara orang-orang baik dengan cara yang sopan dan terpelajar…

Selamat dan Sukses

selamat&sukses5

bi al-imtihaani yukramu al-mar’u aw yuhaanu,
artinya dengan ujian seseorang dapat menjadi terhormat atau terhina…
Terhormat karena usaha kerasnya, sportifitasnya, kejujurannya dan hasil terbaik yang dapat ia capai meskipun tidak selalu baik… Terhina karena kemalasannya, kecurangannya, ketidak jujurannya meskipun ia mendapatkan hasil yang baik… inilah ujian, demikian pula dalam kehidupan… karena sebenarnya hidup adalah ujian dari Allah SWT yang harus kita jalani dengan sebaik-baiknya… semoga ujian pertengahan tahun dan ujian akhir semester ganjil ini menjadi ajang latihan untuk ujian kehidupan kita… dan selalu mengharap ridha, dan pertolongan Allah… semoga kita mendapatkan hasil yang terbaik… dan juga kebahagiaan di dunia dan akhirat. Wa Allahu khair al-Musta’an. Nanjah Ma’an. Amin.

Pemikiran Pendidikan Imam al-Ghazali

Imam al-Ghazali
Biografi Imam Al-Ghazali
Nama lengkap Imam Al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin At-Tusi Al-Ghazali. Lahir di desa Gazalah, di Tus, sebuah kota di Khurasan, Persia pada tahun 450 H atau 1058 M dari keluarga yang religius. Ayahnya, Muhammad, diluar kesibukannya sebagai seorang pemintal dan pedagang kain wol, selalu meluangkan waktunya untuk menghadiri majelis-majelis pengajian yang diselenggarakan ulama. Nama al-Ghazali terkadang ditulis dan diucapkan dengan kata al-Ghazzali (dua huruf z), kata ini diambil dari kata Ghazzal, yang artinya tukang pintal benang karena pekerjaan ayahnya memintal benang wol. Adapun kata al-Ghazali (satu huruf z) diambil dari kata Ghazalah, yaitu nama perkampungan tempat al-Ghazali dilahirkan. Dia adalah pemikir ulung Islam yang menyandang gelar “pembela Islam” (hujjatul Islam), hiasan agama (Zainuddin), samudra yang menghanyutkan (bahrun mughriq), dan pembaharu agama.
Al-Ghazali memulai pendidikannya diwilayah kelahirannya, Tus dengan mempelajari dasar-dasar pengetahuan. Beliau belajar fiqh dari Abu Hamid Ahmad Ibn Muhammad at-Tusi ar-Radzkani, lalu berangkat ke daerah Jurjan sebuah kota di Persia yang terletak diantara kota Tabristan dan Nisabur dan berguru pada Abu Al-Qasim Isma’il bin Mus’idah Al-Isma’ili (Imam Abu Nasr Al-Isma’ili). Kemudian ia melakukan perjalanan ke Nisabur dan tinggal di Madrasah Nidhamiyah, pimpinan al-Haramain al-Juwaini (Imam Abu Al-Ma’ali Al-Juwani) dan belajar padanya dalam ilmu fiqih, ilmu debat, mantiq, filsafat, dan ilmu kalam.
Selain itu, Al-Ghazali juga belajar tasawuf kepada dua orang sufi, yaitu Imam Yusuf an-Nassaj dan Imam Abu Ali Al-Fadl bin Muhammad bin Ali Al-Farmazi at-Tusi. Ia juga belajar hadits kepada banyak ulama hadits, seperti Abu Sahal Muhammad bin Ahmad Al-Hafsi al-Marwazi, Abu Al-Fath Nasr bin Ali bin Ahmad Al-Hakimi at-Tusi, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad Al-Khuwari, Muhammad bin Yahya bin Muhammad as-Sujja’i az-Zauzani, Al-Hafiz Abu Al-Fityan Umar bin Abi Al-Hasan ar-Ru’asi Ad-Dahistani, dan Nasr bin Ibrahim Al-Maqsidi.
Setelah gurunya, al-Juwaini, meninggal dunia, Al-Ghazali meninggalkan Nisabur menuju Istana Nidzam al-Mulk yang menjadi perdana menteri Sultan Bani Saljuk. Kediaman Nidzam al-Mulk merupakan sebuah majelis pengajian, tempat ulama bertukar pikiran. Nidzam al-Mulk kagum terhadap pandangan-pandangan Al-Ghazali sehingga ia diminta untuk mengajar di Madrasah Nizamiyyah Baghdad. Al-Ghazali mengajar di Baghdad pada tahun 484 H/1091.
Empat tahun kemudian, ia meninggalkan Baghdad untuk menunaikan ibadah haji. Kemudian beliau menuju Syam, hidup dalam Jami’ Umawy dengan kehidupan serba penuh ibadah, dilanjutkan mengembara ke berbagai padang pasir untuk melatih diri untuk menjauhi barang-barang terlarang, meninggalkan kesejahteraan dan kemewahan hidup, mendalami masalah keruhanian dan penghayatan agama. Setelah itu, ia kembali lagi ke Baghdad untuk meneruskan kegiatan mengajarnya. Selanjutnya, ia berangkat ke Nisabur dan ke kampung halamannya, Tus. Ia wafat di kampung halamannya pada tahun 505 H atau 1111 M.

Pemikiran Pendidikan Al-Ghazali
Dalam memahami konsep pendidikan al-Ghazali kita perlu memahami tentang berbagai aspek-aspek pendidikan yang telah dijelaskan oleh al-Ghazali dalam berbagai karyanya. Dr. Abduddin Nata dalam bukunya Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam membagi ke dalam lima aspek; tujuan pendidikan, kurikulum, metode, etika guru, dan murid.

a. Tujuan Pendidikan
Seorang guru baru dapat merumuskan suatu tujuan kegiatan, jika ia memahami benar filsafat yang mendasarinya. Rumusan selanjutnya akan menentukan aspek kurikulum, metode, guru dan lainnya. Dari hasil studi terhadap pemikiran al-Ghazali dapat diketahui dengan jelas bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui pendidikan ada dua, pertama: tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah SWT, kedua, kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu, beliau bercita-cita mengajarkan manusia agar mereka sampai pada sasaran yang merupakan tujuan akhir dan maksud pendidikan itu. Tujuan itu tampak bernuansa religius dan moral, tanpa mengabaikan masalah duniawi.
Dari tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh al-Ghazali tampak bahwa corak pendidikan yang dikehendaki oleh al-Ghazali adalah corak pendidikan yang agamis. Namun demikian beliau juga tidak mengabaikan masalah-masalah keduniaan. Hanya saja dalam pandangannya dunia merupakan kebun untuk menuju kehidupan yang kekal abadi atau kehidupan akhirat yang lebih utama.
Selain bercorak religi konsep pendidikan al-Ghazali juga cenderung pada sisi keruhanian. Sejalan dengan filsafat al-Ghazali yang bercorak Tasawuf. Maka sasaran pendidikan, menurut al-Ghazali adalah kesempurnaan insani di dunia dan akhirat. Dan manusia akan sampai kepada tingkat kesempurnaan itu hanya dengan menguasai sifat keutamaan melalui jalur ilmu. Keutamaan itulah yang akan membuat manusia bahagia di dunia dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. sehingga ia menjadi bahagia di akhirat kelak.
Dari ungkapan diatas dapat kita fahami bahwa ilmu merupakan modal kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan ilmu adalah amal yang utama.

b. Kurikulum
Konsep kurikulum al-Ghazali terkait erat dengan konsepnya tentang ilmu pengetahuan. Al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Ilmu yang tercela, sedikit atau banyak. Ilmu tidak ada manfaatnya baik di dunia maupun di akhirat, seperti ilmu nujum, sihir, dan ilmu perdukunan. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa mudharat bagi yang memilikinya maupun orang lain, dan akan meragukan Allah SWT.
2. Ilmu yang terpuji, sedikit atau banyak, misalnya ilmu tauhid, dan ilmu agama. Bila ilmu ini dipelajari akan membawa orang kepadajiwa yang suci bersih dari kerendahan dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
3. Ilmu yang terpuji pada taraf tertentu, dan tidak boleh didalami, karena dapat membawa kepada goncangan iman, seperti ilmu filsafat.
Dari ketiga kelompok ilmu tersebut, al-Ghazali membagi lagi menjadi dua bagian dilihat dari kepentingannya, yaitu:
1. Ilmu yang fardhu (wajib) untuk diketahui oleh semua orang muslim, yaitu ilmu agama.
2. Ilmu yang merupakan fardhu kifayah untuk dipelajari setiap muslim, ilmu dimanfaatkan untuk memudahkan urusan duniawi, seperti: ilmu hitung, kedokteran, teknik, dan ilmu pertanian dan industri.
Dalam menyusun kurikulum pelajaran, al-Ghazali memberi perhatian khusus pada ilmu-ilmu agama dan etika sebagaimana yang dilakukannya terhadap ilmu-ilmu yang sangat menentukan bagi kehidupan masyarakat. Kurikulum menurut Al-Ghazali didasarkan pada dua kecenderungan sebagai berikut:
Pertama, kecenderungan agama dan tasawuf. Kecenderungan ini membuat al-Ghazali menempatkan ilmu-ilmu agama di atas segalanya dan memandangnya sebagai alat untuk menyucikan diri dan membersihkannya dari pengaruh kehidupan dunia. Dengan kecenderungan ini, maka al-Ghazali sangat mementingkan pendidikan etika, karena menurutnya ilmu ini berkaitan erat dengan ilmu agama.
Kedua, kecenderungan pragmatis. Kecenderungan ini tampak dalam karya tulisnya. Al-Ghazali beberapa kali mengulangi penilaian terhadap ilmu berdasarkan manfaatnya bagi manusia, baik kehidupan di dunia, maupun untuk kehidupan akhirat, ia menjelaskan bahwa ilmu yang tidak bermanfaat bagi manusia merupakan ilmu yang tak bernilai. Bagi al-Ghazali, setiap ilmu harus dilihat dari fungsi dan kegunaannya dalam bentuk amaliyah.

c. Metode
Mengenai metode pendidikan Al-Ghazali lebih menekankan pada metode pengajaran agama pada anak-anak. Berdasarkan prinsipnya bahwa pendidikan adalah sebagai kerja yang memerlukan hubungan yang erat antara guru dan murid. Dengan demikian faktor keteladanan merupakan faktor utama dalam metode pendidikannya.

d. Kriteria Guru Yang Baik
Menurut Al-Ghazali selain cerdas dan sempurna akalnya, seorang guru yang baik juga harus baik akhlak dan kuatfisiknya. Dengan kesempurnaan akalia dapat menguasai berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhal yang baik ia dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik, dan mengarahkan anak didiknya.
Selain sifat umum diatas seorang guru menurut Al-Ghazali juga harus memiliki sifat-sifat khusus yang diantaranya adalah kasih sayang, tidak menuntut upah atas apa yang dikerjakannya, berfungsi sebagai pengarah dan penyuluh yang jujur dan benar dihadapan murid-muridnya. Ia tidak boleh membiarkan muridnya mempelajari pelajaran yang lebih tinggi sebelum ia menguasai pelajaran yang sebelumnya. Seorang guru yang baik harus menggunakan cara yang simpatik, halus, dan tidak menggunakan kekerasan, cacian, makian, dan sebagaianya. Seorang guru juga tampil sebagai teladan atau panutan yang baik dihadapan murid-muridnya. Ia juga harus memiliki prinsip mengakui adanya perbedaan potensi secara individual dan memperlakukannya sesuai dengan tingkat erbedaan yang dimiliki muridnya. Seorang guru juga harus mampu memahami perbedaan bakat, tabi’at, dan kejiwaan muridnya sesuai dengan perbedaan tingkat usianya. Dan yang terakhir seorang guru yang baik harus berpegang teguh pada prinsip yang diucapkannya, serta berupaya merealisasikannya sedemikian rupa.
Dari sifat-sifat diatas tampak bahwa sifat-sifat diatas masih relevan dan sejalan dengan pendidikan saat ini.

e. Kriteria Murid Yang Baik
Pendidikan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. sehingga bernilai ibadah. Untuk menurut Al-Ghazali seorang murid yang baik harus memiliki sifat :
1. Berjiwa bersih, terhindar dari budi pekerti yang hina, dan sifat-sifat tercela lainnya.
2. Menjauhkan diri dari pesoalan-persoalan duniawi, mengurangi keterikatan dengan dunia dan masalah-masalah yang dapat mengganggu lancarnya penguasaan ilmu.
3. Rendah hati dan tawadhu’.
4. Khusus bagi murid yang baru jangan mempelajar ilmu-ilmu yang berlawanan atau pendapat yang saling berlawanan atau bertentangan.
5. Mendahulukan mempelajari yang wajib.
6. Mempelajari ilmu secara bertahap.
7. Tidak mempelajari suatu disiplin ilmu sebelum menguasai disiplin ilmu sebelumnya. Sebab ilmu-ilmu itu tersusun dalam urutan tertentu secara alami. Dimana sebagian merupakan jalan menuju sebagian yang lain.
8. Seorang murid juga harus mengenal nilai dari setiap ilmu yang dipelajarinya.

DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Edisi Baru), Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005.
Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Rajawali Press, Cet. III, 2003.
Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia, Cet I November 2009.

Selamat dan Sukses

Ujian adalah salah satu sarana untuk belajar, dan bukan belajar untuk ujian. ini adalah motto kita bersama, jadi ingatlah bahwa: Ujian untuk belajar dan bukan belajar untuk ujian. Ujian akhir semester telah menanti, Ujian Akhir Tahun pun sudah mulai berjalan. Pagi menguji, sore diuji, siap menguji dan siap diuji. Demikianlah dinamika belajar dan mengajar di pondok yang kesemuanya adalah sarana untuk belajar menjadi lebih baik lagi. Semoga Allah meridhoi perjuangan kita, mempermudah kita dalam ujian dan memberikan hasil yang terbaik untuk kita semua. AMIN.

SELAMAT BERLIBUR

Ujian telah berakhir fren… so… kemas2… syap2… mudik… dan jangan lupa koreksiannya just enjoy your holiday…
Selamat berlibur, manfaatkan waktu yang ada merefresh diri setelah rutinitas harian dan FRESH kembali tuk hari esok yang lebih gemilang…

SELAMAT DAN SUKSES

Ujian adalah salah satu sarana untuk belajar, dan bukan belajar untuk ujian tertuang dalam motto: Ujian untuk belajar dan bukan belajar untuk ujian. Ujian akhir semester telah menanti, ujian pertengahan tahun pun sudah berjalan. Pagi menguji, sore diuji, siap menguji dan siap diuji. Demikianlah dinamika belajar dan mengajar di pondok yang kesemuanya adalah sarana untuk belajar menjadi lebih baik lagi. Semoga Allah meridhoi perjuangan kita, mempermudah kita dalam ujian dan memberikan hasil yang terbaik untuk kita semua. AMIN.